MALANG, KlikNews.Co.Id , – Sesekali, pergeseran makna “dinas luar” memang butuh definisi ulang. Di Bapenda Kabupaten Malang, yang beralamat di Jalan Panji Nomor 158, Penarukan, Kepanjen, dugaan penyimpangan tugas tak lagi berurusan dengan tumpukan berkas pajak, melainkan melibatkan pelesiran singkat yang berakhir di kamar hotel.

Semua bermula pada Selasa pertengahan Agustus lalu. Sosok berinisial YS, pegawai Bapenda asal Pagak, terekam kamera awak media keluar dari sebuah hotel di kawasan Kepanjen. Beralaskan alasan resmi “dinas luar”, YS justru terlihat lihai membonceng seorang pria menggunakan sepeda motor matik. Pria misterius itu lantas diturunkan dengan mulus di depan sebuah swalayan.

Tak butuh waktu lama bagi YS untuk beralih mode. Usai menurunkan sang kawan perjalanan, ia melangkah santai menuju parkiran sebuah rumah sakit swasta di sekitar Kepanjen. Di sana, kendaraan dinas berpelat merah yang dibeli dari keringat pembayar pajak sudah menunggunya dengan setia untuk dipakai melanjutkan “agenda”.

Saat dikonfirmasi mengenai aksi manuver ganda tersebut, YS memilih menerapkan jurus bungkam ala pejabat terdesak. Pesan konfirmasi dari awak media hanya centang dua begitu saja tanpa tanggapan.

Upaya memburu kejelasan bergeser ke pucuk pimpinan. Rika, pejabat Bapenda yang dihubungi KlikNews.Co.Id, memberikan respon diplomatis khas birokrasi. “Kami sedang koordinasi dengan pimpinan yang masih dinas luar, nanti akan kami info lebih lanjut,” ujarnya ringkas. Penjelasan ini memicu pertanyaan baru, apakah “dinas luar” yang dimaksud pimpinan memiliki ritme yang sama dengan “dinas luar” YS?

Isu ini bukan sekedar urusan gosip kenaikan kebutuhan pokok, melainkan menyangkut integritas aparatur sipil dan potensi melencengnya penggunaan aset negara. Ketika kendaraan dinas yang seharusnya melayani publik justru dijadikan alat penutup jejak petualangan pribadi, publik berhak bertanya, sejauh mana fasilitas negara membiayai agenda non-dinas para pegawainya?

Awak media terus mengejar konfirmasi dari pihak-pihak terkait untuk memastikan apakah Bapenda akan menindak tegas kreatifitas oknum anggotanya, atau justru membiarkan istilah “dinas luar” terus bergeser maknanya. (Wendy)