MALANG, KlikNews.Co.IdProgram swasembada gula nasional sedang mencoba bikin hidup petani tebu lebih manis, tapi oknum di Kecamatan Kalipare tampaknya lebih suka main “petak umpet” dengan duit negara.

Program Bongkar Ratoon yang seharusnya jadi napas baru buat petani tebu, kini justru berasa pahit gara-gara dugaan aksi “pangkas-memangkas” bantuan yang lebih sadis daripada perang di Timur Tengah.

Suryadi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan, Mente, adalah warga Tumpakerejo, Kecamatan Kalipare yang mendadak harus jadi Pahlawan. Bagaimana tidak. Berdasarkan data dan investigasi, Mente seharusnya mendapat jatah “amunisi” bibit sebanyak 13 ret yang per retnya 4 Rp juta, dengan nilai total Rp52 juta.

Tapi, sulap-menyulap pun terjadi. Begitu sampai ke tangan petani, nominalnya menciut jadi Rp19 juta saja.

“Ada selisih sekitar Rp33 juta yang meleleh entah ke mana. Sepertinya ada oknum Kelompok Tani (Poktan) di Desa Ngembul yang mendadak pikiran dan tangannya menjadi kreatif memotong hak orang,” sindir Suryadi Mente.

Setelah kasus ini meledak dan viral, para oknum mulai “kepanasan”. Tiba-tiba muncul adegan drama sinetron dengan judul, Ikatan Cinta Bongkar Ratoon, ada upaya pengembalian dana sebesar Rp20 juta yang diduga diorkestrasi oleh oknum Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan pengurus Poktan.

Mungkin mereka pikir hukum itu seperti belanja di pasar Online yang bisa refund kalau barangnya tidak cocok.

Tapi maaf, Mente tidak sedang ingin bercanda. Meski sempat gamang, ia menegaskan bahwa pengembalian uang “receh” (dibandingkan total kerugian) tidak otomatis menghapus dosa pidana. Apalagi, uang yang dikembalikan itu pun masih harus dipotong biaya jasa hukum. Sudah jatuh, tertimpa tangga, tangganya patah pula!.

Polisi kini mulai memasang radar. Sinyalemen pemanggilan saksi-saksi sudah mulai menguat, dan Mente sudah pasang badan sebagai saksi kunci. Ia tidak hanya menuntut haknya, tapi menantang aparat untuk memeriksa total 422 ret bibit tebu yang tersebar di wilayah tersebut.

Logikanya sederhana, Kalau satu orang saja disunat Rp1 juta an , bayangkan berapa banyak “tabungan mendadak” yang dikumpulkan oknum dari ratusan ret lainnya?

Jika pengawasan tingkat dasar masih selembek pudding, jangan harap swasembada gula nasional bakal tercapai.

Yang ada, program Bongkar Ratoon hanya akan jadi ladang subur bagi para “tikus ladang berwujud manusia” untuk berpesta pora di atas keringat petani.

Hingga saat ini, pihak pihak terkait dan pengurus Poktan Desa Ngembul masih memilih jurus “diam itu emas”. Mungkin mereka sedang sibuk mencari kambing hitam siapa yang patut disalahkan terkait pemberitaan ini.

Kita tunggu saja, Apakah hukum akan setajam parang tebu, atau justru tumpul karena terganjal manisnya janji-janji Gula Bongkar Ratoon. (Wendy)