MALANG, KlikNews.Co.Id Nuansa kemunafikan gedung SMP Negeri 2 Kepanjen, Kabupaten Malang, yang selama ini diagungkan sebagai kawah candradimuka bagi tunas bangsa, kini mendadak kehilangan marwahnya. Bangunan yang seharusnya menjadi pelukan paling aman bagi pertumbuhan itu kini berubah menjadi monumen bisu atas sebuah trauma yang menyesakkan dada.

Sebuah video berdurasi 01.25  detik yang meledak di jagat maya sejak Sabtu lalu (10/05/26), mengoyak rasa tenang para orang tua di seluruh penjuru kabupaten Malang.

Rekaman itu bukan sekedar tontonan biasa. Di dalamnya, seorang siswi sebut saja Mawar, tampak hancur. Isak tangisnya bukan sekedar luapan kesedihan, melainkan ledakan amarah atas martabat yang telah diinjak-injak hingga hancur.

Di hadapan para guru, ia menuding dengan jari bergetar ke arah seorang pria yang diduga kuat adalah staf sekolah. “Teman-teman kelas saya tahu semua!” teriaknya, seolah menantang keheningan mencekam yang selama ini menyelinap di antara pilar-pilar sekolah.

Ketegangan memuncak saat suara keras perekam video membelah ruang guru yang pengap oleh intimidasi. “Keluarkan KTP kalian semua! Selesai kalian semua, biar urusan sama PPA Polres!” Hardikan itu ditujukan langsung kepada dua pria, di mana salah satunya adalah oknum staf yang mengemban amanah untuk melayani, namun diduga kuat justru memangsa siswi.

Dugaan pelecehan ini bukan lagi sekedar isapan jempol atau desas-desus di ruang digital.

Saat tim investigasi dari MenaraToday.com, Giri Pos.com, dan KlikNews.co.id melakukan penelusuran langsung pada Senin (11/05/26), fakta pahit itu kian benderang. Tanpa sengaja, awak media berpapasan dengan korban Mawar (kelas 8) dan rekannya saat mereka hendak melangkah pulang meninggalkan gerbang sekolah.

Di jalanan sekitar sekolah itulah, Mawar dengan tatapan mata yang masih menyimpan luka sedalam palung, akhirnya bersuara. Ia membongkar secara mandiri dugaan perilaku menjijikkan sang oknum secara gamblang di hadapan jurnalis.

“Dia menyentuh saya secara fisik. Sering melecehkan secara Verbal,”ungkapnya dengan bibir yang terus bergetar, memberikan kesaksian yang meruntuhkan segala bentuk penyangkalan.

Ironisnya, hingga detik ini, singgasana pimpinan di SMPN 2 Kepanjen dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang seolah membeku tanpa suara. Tidak ada pernyataan tegas yang keluar dari lisan mereka, tidak ada permohonan maaf terbuka, apalagi pengumuman sanksi yang dijatuhkan kepada terduga pelaku.

Jika institusi pendidikan gagal menyucikan dirinya dari tangan-tangan kotor oknum internal, maka SMP Negeri 2 Kepanjen bukan lagi tempat menimba ilmu, melainkan monumen kegagalan yang mengukuhkan kenyataan pahit, bahwa sekolah telah kehilangan fungsinya sebagai tempat berlindung bagi mereka yang paling rentan.(Wendy)