MALANG, KlikNews.Co.Id ,- Halaman parkir Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang mendadak berubah tegang, Jumat siang (11/9). Bayangkan, seorang legislator yang berniat baik meredam amarah warga, malah dibantai secara brutal di luar gedung dewan.
Tujuh kali sundulan kepala mendarat telak di kepala dan wajah anggota DPRD Kabupaten Malang. Zulham, menjadi korban dugaan penganiayaan saat berupaya meredam ketegangan.
Insiden berdarah kecil itu bermula ketika seorang warga bernama Hadi Wiyono alias Dur mendatangi gedung dewan sekitar pukul 14.00 WIB.
Kedatangan Dur bukan tanpa maksud. Ia datang untuk mengantarkan surat berisi tuntutan mendesak, pembukaan akses Bendungan Lahor selama 24 jam penuh.
Zulham mengungkapkan, persoalan yang dibawa Dur sejatinya bukan tanpa penanganan. Masalah tersebut telah menjadi mandat bagi rekan sesama legislator dari daerah pemilihan terkait, yakni Dofic dan Alayk.
“Terkait dengan masalah ini sudah ditugasi mas Dofic sama mas Alayk. Karena dapil sana,” ujar Zulham saat ditemui usai kejadian.
Kendati penjelasan telah diberikan, Dur tetap bersuara lantang. Ia melontarkan kritik keras dan menilai penanganan dari pihak dewan berjalan lamban.
Suasana sempat melunak ketika Dur sempat keluar dari area lobi, namun situasi kembali memanas tak lama kemudian saat ia menerobos masuk kembali.
“Begitu terus sampai sekitar tiga kali. Selanjutnya saya datang, berusaha untuk menenangkan suasana,” tuturnya.
Niat hati mendinginkan suasana agar audiensi tetap berjalan kondusif, upaya Zulham justru berbalas petaka. Alih-alih mereda, ia justru mendapat serangan fisik bertubi-tubi berupa hantaman kepala dari Dur.
“Menyundulkan kepalanya, diarahkan ke kepala saya. Saya tidak melawan. Saya ingatnya sekitar 7 kali. Semua dengan sundulan kepala,” ungkap Zulham dengan nada penyesalan.
Akibat tandukan bertubi-tubi tersebut, beberapa telak mendarat di area atas telinga kanan, bibir, hingga bagian vital kepala lainnya. Serangan itu seketika membuahkan pusing hebat.
Hingga harus dilarikan untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan serta opname intensif di RSUD Kanjuruhan.
Tidak terima atas tindakan kekerasan yang mencederai muruah lembaga legislatif tersebut, Zulham secara resmi membawa perkara ini ke ranah hukum. Ia melapor langsung ke Polres Malang agar diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, keberadaan dan kondisi fisik Dur masih belum diketahui pasti pasca-insiden adu tanduk di gedung dewan tersebut.
Sosok Pak Dur sendiri belakangan melejit dan viral di berbagai platform media sosial.
Namanya disorot publik usai memimpin barisan aksi protes warga yang menolak penutupan portal serta kebijakan retribusi berbayar (e-toll) bagi kendaraan umum yang melintas di jalur strategis Blitar–Malang, tepatnya di atas Bendungan Lahor, Karangkates.
Aksi nekatnya membuka paksa fasilitas gerbang pembatas itu sempat menyeretnya berurusan dengan penegak hukum.
Dur sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang atas sangkaan dugaan perusakan fasilitas publik.
Di sisi lain, desas-desus kencang turut beredar di tengah masyarakat ihwal latar belakang Dur.
Ia santer dikabarkan sebagai pemilik salah satu tempat hiburan malam berupa kafe yang berlokasi di Desa Ngreco, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar.
Kini, konflik yang bermula dari aspirasi infrastruktur tersebut bermuara pada dua persoalan hukum.
Desakan pembukaan akses Bendungan Lahor dan proses penyidikan atas dugaan penganiayaan terhadap anggota dewan.(Wendy)










Tinggalkan Balasan