MALANG, KlikNews.Co.IdDinamika kehidupan memang kadang lebih berliku daripada jalan setapak menuju sawah. Baru-baru ini, jagat maya dan obrolan warung kopi di Desa Gading, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, dibuat riuh oleh kabar “miring” yang menyeret nama sang Kepala Desa, Suwito.

Setelah sempat membuat publik menahan napas karena jadwalnya yang lebih padat dari jadwal konser artis ibu kota, Pak Kades akhirnya muncul memberikan klarifikasi. Namun, karena posisi beliau sedang berada di Paiton dan warga sudah keburu “gemas” menanti kepastian, wawancara pun dilakukan via jalur udara alias WhatsApp, pada Jum’at 10/04/26.

Kepada awak media KlikNews.Co.ID, Suwito dengan tegas membantah tudingan perselingkuhan dengan perempuan berinisial EV yang selama ini santer terdengar. Menurutnya, hubungan tersebut bukanlah hubungan tanpa status atau “kucing-kucingan”, melainkan sudah sah secara agama.

“Itu bukan perselingkuhan, tapi pernikahan siri. Istri Sah saya juga sudah tahu kok,” ungkap Suwito mencoba meluruskan benang kusut.

Usut punya usut, momen sakral ini dilakukan saat mantan istri sirinya yang terdahulu, Nur Jannah, sedang “menuntut ilmu” di balik jeruji besi selama 2,5 tahun akibat kasus penyaluran TKI ilegal. Rupanya, Pak Kades nampaknya tidak ingin membiarkan kursi “Ibu Kades Siri” kosong terlalu lama.

Meski jawaban di awal terasa sangat meyakinkan dan tegas, suasana sedikit berubah saat awak media mulai masuk ke detail teknis.

Bak petir di siang bolong, ketegasan itu mendadak luntur saat pertanyaan krusial muncul dari Jurnalis KlikNews.Co.Id. “Kapan tepatnya pernikahan siri dengan EV itu dilaksanakan?”

Mungkin karena terlalu sibuk mengurus desa atau efek faktor cuaca di Paiton, Pak Kades memberikan jawaban yang sangat singkat, padat, dan membuat dahi berkerut.

“LUPA.”

Ya, hanya satu kata. Tanpa ragu, tanpa basa-basi. Sepertinya memori tentang tanggal pernikahan siri tersebut terhapus secara otomatis dari sistem penyimpanan pikiran beliau, atau mungkin Pak Kades terlalu fokus pada masa depan sampai-sampai tanggal sejarah sendiri terabaikan.

Hingga berita ini diturunkan, warga Desa Gading masih mencoba menebak-nebak, apakah “Lupa” adalah sebuah kode rahasia atau memang efek samping dari padatnya jadwal seorang pejabat desa. Yang pasti, drama asmara ini telah memberikan hiburan tersendiri di tengah penantian klarifikasi yang panjang. (Wendy)