MALANG, KlikNews.Co.Id – Kelangkaan bahan bakar minyak atau BBM di Kabupaten Malang belum juga berakhir. Memasuki pekan kedua, antrean kendaraan masih mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU.
Pertalite dan Solar menjadi dua jenis BBM yang paling banyak dikeluhkan warga.
Di Kabupaten Malang, persoalan itu telah masuk ke ranah yang lebih serius. Kelangkaan BBM mulai mengganggu aktivitas warga dan memukul pendapatan masyarakat yang menggantungkan pekerjaannya pada ketersediaan bahan bakar.
Hingga Jumat (16/10), antrean masih terlihat di sejumlah SPBU di Kabupaten Malang. Warga harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
Rizky, sopir truk asal Dampit, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dampak kelangkaan tersebut.
Selama tiga hari, Rizky memilih tidak mengambil muatan lantaran kesulitan mendapatkan Solar.
“Kalau sopir kan bergantung sekali dengan BBM, sampai tiga hari kemarin saya nggak mau ambil muatan karena tidak ada Solar,” kata Rizky, Jumat (16/10), kepada KlikNews.Co.Id.
Tiga hari tidak bekerja membuat Rizky kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp900.000.
Ia baru bisa mendapatkan Solar pada Jumat. Itu pun setelah harus menuju SPBU Pepen di Kepanjen, Kabupaten Malang, yang jauh dari domisilinya di Dampit.
Bagi Rizky, persoalan tersebut bukan sekadar soal panjangnya antrean. Yang membuat warga frustrasi adalah kondisi yang terus berlangsung tanpa kepastian kapan berakhir.
“Menurut saya ini sudah parah. Kok bisa sampai panjang dan berkelanjutan seperti ini, sudah berminggu-minggu,” katanya.
Keluhan yang sama datang dari Agus, seorang karyawan swalayan modern.
Ia harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk mengantre di SPBU Pepen, Kepanjen. Agus tetap bertahan karena membutuhkan BBM untuk melanjutkan aktivitasnya.
“Pasrah saja, mau bagaimana lagi, sudah satu jam lebih antre. Jujur, kondisi ini sangat mengganggu karena membuat saya terlambat,” katanya.
Antrean panjang membuat Agus harus mengatur ulang waktu pengisian BBM. Ia memilih mengisi pada malam hari agar keesokan paginya dapat berangkat bekerja tanpa terlambat.
Ia juga khawatir Pertalite kembali kosong pada pagi hari.
“Isi malam agar esoknya berangkat kerja tidak terlambat dan takutnya pagi Pertalite kosong,” ujarnya.
Kelangkaan BBM yang berlangsung berminggu-minggu membuat persoalan mengenai kecukupan kuota dan distribusi BBM di Kabupaten Malang semakin mencuat.
Kebutuhan BBM masyarakat Kabupaten Malang menjadi salah satu hal yang perlu diperjelas, termasuk kecukupan kuota BBM bersubsidi yang tersedia bagi masyarakat.
Pola distribusi BBM juga perlu mendapat perhatian, terutama karena kekosongan di sejumlah SPBU telah membuat warga berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk mendapatkan bahan bakar.
Kondisi tersebut juga menunjukkan perlunya penjelasan mengenai penyebab antrean yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu.
Pertanyaan mengenai persoalan tersebut muncul karena dampak kelangkaan sudah dirasakan langsung masyarakat.
Bagi sopir truk, Solar merupakan bagian penting dari pekerjaannya. Ketika Solar tidak tersedia, kendaraan berhenti dan pekerjaan ikut terhenti.
Rizky merasakan sendiri akibatnya. Tiga hari tidak bekerja membuat potensi pendapatannya hilang Rp900.000.
Bagi pekerja seperti Agus, antrean lebih dari satu jam berarti waktu kerja yang terganggu.
Di tengah antrean yang terus mengular, Pemerintah Kabupaten Malang dinilai belum memberikan penjelasan yang memadai mengenai kondisi tersebut.
Warga bukan hanya membutuhkan BBM. Mereka membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan pasokan dan penyelesaian persoalan yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.
Sebab ketika BBM sulit diperoleh, pekerjaan terhenti, pendapatan hilang, waktu terbuang, dan aktivitas masyarakat ikut terganggu.
Sementara masyarakat Kabupaten Malang masih menunggu kepastian mengenai kapan kelangkaan BBM tersebut akan berakhir dan kapan mereka dapat kembali mendapatkan bahan bakar tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di tengah antrean.(Wendy)










Tinggalkan Balasan