JAKARTA,KlikNews.Co.Id – Gang Potlot di Duren Tiga, Jakarta Selatan, bukan sekadar gang sempit biasa. Tempat ini menjadi saksi lahirnya Slank, band legendaris Indonesia, serta komunitas musik yang melahirkan talenta besar seperti Imanez, Bongky, Pay, dan Anang Hermansyah.
Media menelusuri lokasi ini pada Sabtu (21/3/2026), mengungkap sejarah bagaimana gang sederhana ini bertransformasi menjadi pusat kreativitas musik Tanah Air.
Kisah dimulai dari migrasi keluarga Sidharta M. Soemarno dan Bunda Iffet, orang tua Bimbim Slank, dari Surabaya ke Jakarta demi masa depan lebih baik. Mereka awalnya menyewa rumah di Jalan Dempo 1, Kemayoran, selama tiga tahun sebelum pindah ke gang tak bernama di Duren Tiga pada awal 1980-an.
Gang itu dinamai “Potlot” dari pabrik pensil (potlot) di depannya, yang bangkrut dan dijual per kavling.
Pemilik pabrik sempat mengaspalnya, memudahkan akses bagi pendatang baru. Rumah keluarga Bimbim pun jadi magnet bagi remaja pencinta musik.
Sejak 1983, anak muda seperti Imanez dan Bongky sering berkumpul di sana, jamming bersama.
Bunda Iffet merespons antusiasme itu dengan membangun studio musik sederhana di rumah, membuka ruang bagi Bimbim, Massto, dan kawan-kawan.
Studio ini melahirkan band cikal bakal seperti Lovina (Massto dan Kaka) serta Lemon Tea (Oppie dan Bimbim), membentuk ekosistem musik Potlot.
Puncaknya, Bimbim mengajak Kaka membentuk Slank secara resmi pada 1990, menjelang album debut Kampung Cempluk.
Kaka awalnya berjanji bertahan dua tahun, tapi Slank melejit hingga tur internasional ke AS dan Jepang. Kini, Gang Potlot tetap markas Slank, simbol ketangguhan musik indie Indonesia.
Hingga kini, Potlot menginspirasi generasi baru musisi, membuktikan gang kecil bisa ubah sejarah musik nasional. (Red)






Tinggalkan Balasan